Berita Chip – Satria Piningit Perang Browser?

Perang browser bagaikan perang Baratha Yudha dalam legenda pewayangan Mahabarata. Siapa yang bisa digjaya dalam perang itu akan menjadi penguasa di masa depan.

google-chrome

Wajar saja, berbagai ramalan para empu-empu Internet mengatakan bahwa masa depan teknologi informasi ada di Internet dan website merupakan salah satu faktor penting. Apalagi yang menjadi piranti utama membuka website jika bukan piranti lunak peramban web (browser)?

Perang browser

Perang browser bisa dilacak awalnya sejak Netscape Navigator dan Internet Explorer. Dua kubu itu berseteru memperebutkan pasar pengguna Internet yang ketika itu boleh dibilang tidak seberapa.

Perlu diketahui bahwa browser pertama Netscape bernama Mosaic Netscape baru kemudian baru diubah menjadi Netscape Navigator. Mosaic kerap dianggap sebagai aplikasi browser pertama di dunia meskipun sebelumnya sudah ada WorldWideWeb alias Nexus yang merupakan browser pertama di dunia.

Meski arena pertempurannya belum terlalu besar, persaingan kedua kubu Netscape dan Microsoft sudah sangat sengit. Pada bulan Oktober 1997 misalnya, pihak Microsoft meluncurkan Internet Explorer (IE) 4.0 dengan sebuah pesta besar-besaran di San Francisco. Malam hari setelah pesta, sekelompok orang yang diduga dari Microsoft berniat iseng dan meletakkan logo IE besar di halaman kantor Netscape.

Pihak Netscape, yang kerap bermalam di kantor, mengetahui akan aksi iseng tersebut dan memutuskan untuk melakukan “pembalasan”. Sebelum ada yang sempat melihat lambang huruf “e” warna biru itu mejeng di depan kantor Netscape, beberapa pegawai Netscape menggulingkannya, menuliskan “Netscape Now” dan meletakkan maskot mereka, seekor kadal bernama Mozilla di atasnya. Akibatnya, muncullah insiden “Mozilla menginjak IE” yang terkenang sepanjang masa.

Kelahiran rubah api

Perang Netscape dan Microsoft pada akhirnya dimenangkan oleh kubu Microsoft sekitar tahun 1998. Berbagai faktor mendorong kekalahan Netscape, mulai dari dominannya Microsoft di pasar sistem operasi hingga kelemahan Netscape Navigator dari sisi teknis.

Meski sudah kalah, bukan berarti diam saja. Sebelum kematiannya, Netscape masih sempat merapal ajian yang terbukti sakti. Ajian ini bernama Open Source, yaitu membuka kode penyusun Netscape kepada komunitas pengembang yang luas di dunia. Jurus nekat tersebut terbukti ampuh. “Almarhum” Netscape melahirkan yayasan yang menggunakan nama dari maskot tim Netscape, The Mozilla Foundation. Bersama-sama, sekumpulan software developer di Mozilla mengembangkan browser bernama Mozilla. Ironisnya, browser berlambang kadal raksasa itu juga dikritik karena memiliki ukuran yang besar dan memberatkan memori komputer. Ukuran besar itu terjadi karena Mozilla sebenarnya merupakan sebuah paket aplikasi yang terdiri atas browser, e-mail clien­t, dan editor HTML.

mozilla

MOZILLA INJAK IE - Pembalasan Net­scape terhadap Microsoft yang mengirim “hadiah” spesial untuk mereka.

Tim Mozilla terus mengembangkan browsernya hingga suatu ketika mereka membangun ulang Mozilla menjadi Firefox atau nama lengkapnya Mozilla Firefox. Rubah api ini diibaratkan burung api phoenix yang bangkit dari abu-abu Mozilla dan Netscape.

Memang awalnya Firefox akan dinamai Phoenix, tetapi tersandung masalah hak cipta dan merek dagang.  Nama Firebird pun sempat diajukan sebelum akhirnya dipilih nama Firefox.

Awalnya Firefox diintip dengan kekhawatiran bahwa ia hanyalah si kadal raksasa yang berubah wujud. Namun kemudian, publik jatuh cinta pada browser yang ramping itu. Firefox menjadi pilihan banyak pihak. Dari sisi pangsa pasar, Microsoft boleh dibilang masih unggul. Salah satu faktor utamanya adalah banyaknya pengguna sis­tem operasi Microsoft Windows di dunia. Sedangkan IE sudah pasti tersedia di dalam Windows.

Bukan duel semata

Perang antara kubu Firefox dan IE memang yang paling terllihat di permukaan. Namun sebenarnya, masih banyak pihak lain yang mengincar tahta browser di dunia. Pihak ketiga dalam perang ini adalah Opera, sebuah web browser buatan Opera Software asal Norwegia. Pada saat kemunculannya Opera juga menjadi produk alternatif yang menggiurkan.

Beberapa feature yang diperkenalkan Opera di kemudian hari akan menginspirasikan browser-browser lain. Ini termasuk tab browsing, speed dial, mouse gesture, dan ukuran yang ringan.

chart

Selain Opera, browser yang juga eksis adalah Safari dari Apple Inc. Salah satu sumbangsih Safari pada dunia browser adalah Webkit. Ini adalah proyek Open Source yang digunakan sebagai dasar pengembangan Safari.

Belakangan, muncul satu pihak baru dalam perang browser yang mungkin bisa disebut Satria Piningit. Meskipun masih harus dibuktikan dulu apakah benar ialah the chosen one yang akan memenangkan pertempuran.

Satria Piningit

Browser yang muncul tiba-tiba dan membuat geger itu adalah Google Chrome, piranti lunak peramban web buatan Google, raksasa Internet yang bermarkas di Silicon Valley. Kehadiran Google cocok dengan mitologi satria piningit karena ia seakan-akan sebuah senjata rahasia yang selama ini disembunyikan. Kehadirannya pun membuat pihak yang sedang berperang kalang kabut.

Nama Chrome sendiri diambil dari istilah chrome pada browser, yaitu bingkai pada tampilan browser. Istilah chrome dalam konteks ini digunakan pada Mozilla Firefox. Uniknya, sebelum mengeluarkan Chrome, Google memiliki kerja sama yang sangat erat dengan Firefox.

Google adalah salah satu penyandang dana terbesar bagi Mozilla Firefox. Yayasan Mozilla memiliki perjanjian dengan Google untuk menjadikan Google sebagai mesin cari default dari Firefox dan dengan demikian, Firefox memiliki sumber dana dari search referrals.

Pada tahun 2006, laporan keuangan Mozilla menyebutkan bahwa kurang lebih 85 persen dari pendapatan Mozilla sepanjang 2006 berasal dari search royalti. Jumlahnya mencapai USD 56,8 juta.

Membunuh teman?

Apakah dengan melansir browsernya sendiri Google akan “membunuh” Firefox? John Lilly, CEO Mozilla, mengaku tidak khawatir dengan hal itu. Dalam blognya, ia menyebut bahwa Mozilla dan Google sejak dulu memang memiliki jalan yang berbeda.

Dari sisi teknis, papar John, kedua pihak akan tetap bekerja sama. Ia mencontohkan kerja sama keduanya dalam sistem bernama Breakpad, yang digunakan untuk melaporkan crash pada aplikasi.

Dari sisi produk, kedua pihak menurut John telah bekerja sama untuk menerapkan teknologi anti-phishing (antipenipuan) dan antimalware (antiprogram berbahaya). Teknologi serupa, papar John, diterapkan pula pada Google Chrome. Dari sisi keuangan, lanjut John, kerja sama antara Firefox dan Google akan tetap berlanjut. Bahkan, kontrak yang seharusnya berakhir di 2008 telah diperpanjang hingga 2011.

chrome

SEDERHANA – Inilah tampilan depan Google Chrome, terlihat bersih dan sederhana. Chrome akan menampilkan secara otomatis website-website yang sering kita kunjungi di halaman awal tab baru.

Sisi lain yang patut diperhatikan adalah Google Chrome memiliki basis kode yang terbuka alias Open Source. Tepatnya, Google memiliki landasan pada kode Webkit (Safari) dan Mozilla (Firefox).

Ini artinya pihak Mozilla pun mempunyai kesempatan menggunakan kode dari Google Chrome untuk memperbaiki Firefox yang juga Open Source. Jika melihat pada hal itu, bisa jadi keberhasilan Chrome sebagai Satria Piningit belum tentu terwujud dari dirinya sendiri.

Bisa saja Firefox akan menerapkan kemampuan Chrome untuk memperbaiki dirinya dan muncul sebagai pemenang dalam perang browser terbaru. Mengapa tidak?

Bayi baru lahir

Google Chrome terlahir resmi ke dunia Internet pada tanggal 2 September 2008. Saat ini Chrome masih berlabel Beta atau masa percobaan alias belum stabil. Pada saat artikel ini ditulis versi beta yang tersedia adalah versi 0.2.149.29 (tersedia di CHIP CD/DVD edisi ini).

Image

UJI JAVASCRIPT – Hasil pengujian menunjukkan bahwa Chrome lebih cepat dalam memroses JavaScript dibanding browser lain.

Meski masih berstatus Beta, Chrome sudah menunjukkan kekuatannya sebagai browser nomor satu. Dari hasil pengujian singkat kecepatan  Chrome  dalam  memroses  JavaScript dari lima website JavaScript Benchmark (http://code.google.com/apis/v8/run.html). Hasil yang diperoleh sangat mencengangkan (lihat tabel). Chrome ung­gul sangat telak dibanding para pesaingnya. Pengujian ini tidak meng­ikutsertakan Opera namun dari hasil peng­ujian sebelumnya Opera memang sedikit lebih unggul dibanding Chrome (baca di CHIP 09/2008 halaman 20).

Image

CERITA – Anda tidak perlu pusing membaca bagaimana Google Chrome bekerja, cukup baca komiknya dan dijamin Anda senang dan mengerti.

Di usianya yang masih hitungan hari, Chrome telah tersedia dalam 43 bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia. Selain itu, untuk menjelaskan  bagaimana Chrome bekerja dan membimbing para penggunanya menggunakan Chrome, Google memberikan tutorial yang sangat intuitif dalam bentuk komik yang sangat menarik. Anda dapat membaca komik ini dari  http://www.google.com/googlebooks/chrome atau dari file PDF yang CHIP sediakan di CD/DVD edisi ini.

Firefox Rasa Chrome

Untuk pengguna yang belum mau menggunakan Chrome atau belum bisa menggunakan Chrome karena tidak menggu­nakan Windows (saat ini Chrome baru tersedia untuk Windows XP dan Vista), Anda bisa memilih untuk mengubah “rasa” Firefox-nya de­ngan sejumlah add-on atau extensions.

Chrome Package Firefox Extensions

Merupakan extension Firefox yang menempatkan tab di bagian paling atas dari window sama seperti Google Chrome, bukan di bawah Address bar seperti yang biasanya terdapat pada Firefox.

Stealther

Memberi kemampuan Firefox untuk browsing secara rahasia dan tanpa jejak. Namun bedanya, pada Chrome hal ini bisa dilakukan pada window baru tanpa mempengaruhi window lainnya. Sementara itu dengan extension Stealther semua window akan menjadi rahasia.

Download Statusbar

Extension ini akan menampilkan informasi download pada status bar Firefox, sama seperti yang ada di Chrome. De­ngan demikian semua yang di-download bisa langsung terpantau.

Speed Dial

Menampilkan website pilihan jika membuka tab baru. Sebenarnya, fungsi ini lebih mirip Speed Dial pada Opera. Sementara itu pada Chrome, yang ditampilkan adalah halaman-halaman yang sering dikunjungi.

LocationBar2

Membuat Firefox menebalkan nama domain sebuah website. Sama seperti yang dilakukan Google Chrome untuk mengurangi penipuan.

Prism

Adalah extension yang memberi kemampuan Firefox untuk menjadikan sebuah website seakan-akan menjadi aplikasi terpisah yang bisa dijalankan dari shortcut pada desktop atau Start Menu.

Kelemahan Chrome

Sebagai versi uji coba, Google Chrome memiliki kelemahan. Beberapa di antaranya:

Privasi

Google menyimpan dua persen data pencarian pengguna lengkap dengan alamat IP-nya. Meski setelah waktu tertentu data ini akan di-anonim-kan, tetap saja ada celah waktu ketika Google tahu siapa mencari apa di mana.

Lisensi

Google sempat mencantumkan dalam Terms of Service Chrome bahwa semua muatan dari pengguna yang hak ciptanya dimiliki oleh pengguna akan diserahkan haknya pada Google. Pasal ini telah dicabut.

Celah Keamanan

Peneliti keamanan menemukan adanya “lubang” di Google. Misalnya, celah yang memungkinkan sebuah halaman untuk menyebabkan Chrome crash. Chrome juga memiliki feature download otomatis yang dikhawatirkan bisa disalahgunakan hacker.

Tak Ada Extensions

Salah satu yang paling menarik dari Firefox adalah banyaknya extensions yang bisa meningkatkan kinerja aplikasi tersebut. Di Google Chrome, hal ini belum diterapkan.

Bahasa Janggal

Ikhlasul Amal, blogger dari Bandung, terpaksa mengganti pilihan bahasa pada Chrome dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris akibat adanya tab bertajuk “Utak-Atik Dikit”. Agaknya Amal merasa janggal pilihan bahasa tim Google yang tidak konsisten dalam menggunakan bahasa baku.

Senjata Pamungkas Google Chrome

Google Chrome memiliki beberapa senjata yang terlihat berkilauan. Berikut adalah senjata-senjata tersebut:

Tapilan tak mengusik

Google secara tegas mengatakan Chrome ingin “menyingkir dari pandangan pengguna”. Artinya, pengguna browser ini akan lebih fokus pada web dan “melupakan” browser yang sedang digunakannya.

Modus Penyamaran

Modus ini memungkinkan pengguna untuk mengakses website tanpa meninggalkan jejak. Modus ini kerap disebut sebagai modus porno karena sangat cocok digunakan untuk mengakses konten porno secara diam-diam.

Aplikasi Web

Google memberi opsi “Buat Pintasan Aplikasi” alias “Make Application Shortcut”. Dengan feature ini sebuah aplikasi web, seperti Gmail atau Google Reader, bisa dijalankan lewat shortcut pada desktop atau Start Menu layaknya aplikasi lokal.

Pengelolaan Memori

Setiap tab yang dibuka pada Chrome memiliki proses yang terpisah, sehingga error pada salah satu tab tidak akan menyebabkan seluruh browser error.

Pencarian

Google adalah rajanya pencarian. Oleh karena itu wajar jika Chrome memiliki fungsi pencarian yang digdaya. Misalnya, ia bisa mendeteksi ketika pengguna pernah melakukan pencarian di suatu website dan memasukkan website tersebut dalam daftar penyedia pencarian.

Anti Penipuan

Selain memiliki blacklist website berbahaya dan website penipuan, Chrome juga menyediakan kemampuan menebalkan nama domain sebuah website. Misalnya, ada website penipuan beralamat ibank.klikbca.login4040.com, maka login4040.com akan ditebalkan sehingga diharapkan pengguna sadar bahwa itu bukan website KlikBCA.

TIM CHIP

Iklan

One comment on “Berita Chip – Satria Piningit Perang Browser?

  1. Ping-balik: Daily News About Firefox : A few links about Firefox - Thursday, 23 April 2009 20:36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s